Cinta adalah sebuah fitrah yang tiada terkira gejolaknya. Karena cinta kita
bisa melakukan segalanya. Untuk cinta kita rela berkorban bahkan mengorbankan
cinta itu sendiri demi tujuan yang lebih mulia. Artikel ini mengisahkan
sepasang aktivis dakwah kampus yang saling mencinta namun mengikhlaskan
cintanya pada orang yang dicintainya untuk Allah.
Seorang akhwat berproses dalam kemajuan dakwah yang pesat. Perlahan-lahan
dirinya yang sederhana menjadi bunga yang merekah di ladang dakwah. Dia
mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk berjuang di jalan-Nya. Seakan-akan
dia selalu melihat surga di ujung sana, menantinya dengan sepenuh senyuman
cinta. Ia bergerak dengan suka cita sambil terus belajar mengeja ayat-ayat-Nya.
Perlahan-lahan dia mulai memasuki arena dakwah kampus yang sarat dengan ta�awun antara ikhwan-akhwat.
Dia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang dramatis ini. Yang
awalnya ia hanya bekerja sendirian kini ada partner dakwah ikhwan yang
menemani. Bersama dengan aktivis yang lain mereka bergerak melakukan
perubahan-perubahan kecil demi terciptanya kampus yang rindu Ilahi. Pepatah
petitih jawa mengatakn, "Trisno jalaran seko kulino." Maka singkatnya
dalam hati kedua aktivis ini timbullah cinta, cinta kepada selain jenis yang
merupakan fitrah tak terhingga.
Mereka saling mengetahui satu sama lain karena lingkungan tanpa sengaja
menceritakan. Mereka mengenal satu sama lain karena Allah tanpa sadar
menyatukan. Keduanya berada dalam lingkaran virus yang menelan banyak korban
dari kalangan aktivis dakwah. That�s
VMJ or Virus merah Jambu.
Ikhwan juga telah berubah dari yang dulunya bisa menjaga pandangan kini
mulai menatap penuh perhatian dari kejauhan. Yang awalnya tegas kini jadi lebih
lembut dan penuh canda. Beruntung Allah masih menjaga separuh hati mereka
sehingga mereka masih menjaga jarak satu dengan yang lainnya walau ekspresi dan
segala isyarat menandakan pertautan tak tampak diantara keduanya. Ya...
keduanya telah menaruh harap pada yang lainnya...
Akhwat bagaikan tersadar dari mimpi panjang... Ia sadar cinta ini terlarang.
Cinta ini menimbulkan bersitan-bersitan aneh kala melakukan kerja-kerja dakwah
hingga akhirnya merobohkan pondasi dakwah itu sendiri. Ia sadar kini harapannya
telah tertumpu pada satu dosa yang terselubung, dosa niat berbuat bukan lagi
karena ridunya pada surga. Kini ia melakukannya demi cinta pada selain-Nya. Ia
ingin melepaskan, tapi entah kenapa sulit sekali melakukan... Selalu ada celah
kecil yang membuat mereka tanpa sengaja bertemu dan bekerjasama lagi. Walau
pintu-pintu hati telah dikunci rapat untuknya, tetapi selalu ada kunci lainnya
yang membuka gerbang cinta itu lagi. Kunci itu adalah harapannya pada sang
ikhwan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Entah kenapa muncul harapan
itu. Padahal selama ini mereka tiada pernah berkomunikasi melainkan ketika ada
agenda dakwah. Padahal mereka menjaga jarak dalam keseharian, tiada pernah
melakukan tindakan maksiat fisik. Tapi akhirnya akhwat tersadar... mereka telah
melakukan maksiat hati yang lebih parah akibatnya daripada maksiat fisik. Dan
maksiat hati yang ia lakukan adalah menaruh harapan pada ikhwan itu sehingga
seluruh pondasi amal bukan lagi karena Allah. Ya Ilahi rabbi... ampunilah
hamba... rintihnya dalam keremangan malam...
Setiap malam akhwat berdoa agar dirinya terjauh dari itu semua. Isak tangis
menemani malam-malamnya kala meminta. Ia merintih dalam bisu... Ia mengakui
pada Yang Maha Mengetahui segala isi hati, bahwa ia memang sulit melepaskan
ikhwan yang telah bersemayam di hatinya, tapi ia juga ingin membuangnya
jauh-jauh dari segala harapnya. Ia menangis karena ia terlalu lemah untuk
meminta sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Ia meminta dijauhkan dari
ikhwan itu padahal ia tahu persis ia telah terlajur mencintai ikhwan itu dari
relung hatinya. Ikhwan yang bertalenta itu telah menjadi bagian hatinya... Tapi
ia tidak bisa meninggalkan ikhwan itu menetap di hatinya... Ia harus melepaskan
ikhwan itu dari hatinya, demi cintanya pada Sang Khalik. Ia akan mengikhlaskan
ikhwan itu kepada Allah... Jika mereka harus berpisah maka ia rela berpisah
demi Allah, walau hati perih terasa meniggalkan jejak-jejak yang telah ternoda.
Tetapi ternyata sangatlah sulit melepaskan harapan yang telah ada, walau
bukan karena-Nya. Berulangkali akhwat terjatuh dan tertatih dalam isak dan
tangis. Meminta agar dijauhkan dari sesuatu yang ingin dimilikinya. Tapi karena
ia takut pada Allah dan terlalu cinta pada-Nya, maka ia tak pernah berhenti
meminta. Bahkan ia meminta... gantikan saja hatinya yang telah ternoda dengan
hati yang lain, hati yang suci seputih kabut, hati milik para bidadari surga.
Tapi apakah mungkin hadiah itu diberikan Allah pada-Nya? Sedang ia hanyalah
seorang manusia yang bergelimang dosa tak tampak. Bersitan itu telah menimbulkan
hatinya hitam sepekat arang. Masihkah ada pintu surga yang bisa kulalui,
wahai Rabb??? Batin sang akhwat dalam hatinya...
Perlahan malam menggantikan siang dan mentari berganti rembulan. Telah
berjuta kali hatinya meminta, lalu ia terjatuh dan merangkak dalam kegelapan.
Harapannya timbul tenggelam karena sang ikhwan terus menatapnya dari balik
hijab dan menunggunya mengucapkan kata yang sama. Tapi sang akhwat tiada merasa
perlu mengatakannya karena cinta yang dia berikan kepada ikhwan itu telah ternoda
oleh nafsu. Akhwat hanya berharap ada secercah cahaya yang memberinya kekuatan
untuk bangkit. Bangkit dari harapan tak bertepi yang melahirkan fenomena
kehidupan. Akhirnya Allah mengabulkan pintanya dalam cahaya remang misyqat
bening di tembok surga...
Kini akhwat tahu bahwa dirinya tak lagi menjadi harapan bagi sang ikhwan...
Alam menceritakan bahwa sang ikhwan telah ghadul bashar bahkan dari jarak
ribuan kilometer. Bahwa sang ikhwan telah tegas seperti sedia kala ketika harus
berhadapan dalam agenda dakwah. Bahwa sang ikhwan semakin khusyuk dalam munajat
dan ikhtiyarnya mendekati Allah. Bahwa sang ikhwan telah menjadikan Allah
sebagai tumpuannya dalam setiap sujud dan takbir. Bahwa sang ikhwan semakin
karib dengan ayat-ayat Al-Qur�an
dan tadabburnya. Subhanallah...
Perlahan airmata akhwat menitik mendengar alam mengisahkan. Akhwat tahu ia
sedih sekali mengetahui kini dirinya tiada lagi yang mencinta, tapi ia juga
bahagia dirinya yang dhoif dan fana ini tak mengotori hati ikhwan yang khusyuk
bermunajat pada Sang Ilahi Rabbi. Kini ia tahu bahwa mereka saling
mengikhlaskan satu sama lainnya karena cinta mereka pada Allah. Mereka ada
untuk Allah dan akan selamanya seperti itu. Kini hijab hijau yang terhampar
diantara keduanya panjang terbentang dan tidak akan terbuka selama-lamanya
kecuali takdir Allah mengatakan berbeda.
Akhwat itu tersenyum pada Allah dalam tangis malamnya. Akhwat itu menangis
haru pada Allah dalam relung hatinya. Andai mereka tahu rasanya mengikhlaskan
kekasih yang dicinta demi Allah, maka tiada lagi Virus Merah Jambu mengantarkan
para aktivis dakwah lain ke panasnya bara neraka. Thanks a lot Allah...
Engkau selamatkan hamba dari panasnya bara neraka. Semoga hamba layak menjadi
bidadari surga-Mu... kata akhwat itu dalam hati. Akhwat itu lalu
memberikan senyuman manis pada dunia dan ia terlelap di sajadah tuanya untuk
selama-lamanya...
Untuk setiap aktivis dakwah... Jagalah Allah di hatimu, maka Allah akan
menjagamu selalu. Selamanya...
Kuikhlaskan Dirimu untuk-Nya
23.43 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar